cara membuat kalimat dalam bahasa arab

cara membuat kalimat dalam bahasa arab

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Hai sahabat arabia, sudah sampai mana belajar bahasa arab kalian? Sampai manapun belajar kalian, semoga tetap istiqamah dalam belajar. Biarpun sedikit demi sedikit yang penting konsisten, itu lebih baik dari pada semangat musiman. Di awal belajar semangat,  tapi di tengah jalan, semangatnya hilang, tersibukkan oleh kegiatan-kegiatan yang lain. Apalagi bagi kalian yang belajar otodidak alias belajar mandiri dirumah, penyakit futur (hilang semangat) itu mudah menghampiri. Bahkan yang belajar di lembaga formalpun tak lepas dari penyakit futur tersebut. Saya ingat dulu ketika masih belajar dima’had, pertama kali yang daftar itu banyak, tapi baru berjalan satu semester, sudah pada berguguran. Itulah pentingnya istiqamah.
Baiklah, pada artikel ini saya akan membahas tentang cara membuat kalimat dalam bahasa arab. Itu berarti kita akan membahas susunan kalimat dalam bahasa arab. Pada artikel yang telah lalu, saya telah menulis macam-macam jumlah (kalimat) dalam bahasa arab. Maka pada artikel ini saya akan menguraikan hal tersebut. Jumlah (kalimat) di dalam bahasa arab ada 2 macam, jumlah ismiyah, dan jumlah fi’liyah.
1. Jumlah ismiyah, adalah jumlah yang yang diawali kalimah(kata) isim. Struktur jumlah ismiyah terdiri dari mubtada’ dan khabar mubtada’. Mubtada’ adalah isim yang berada di awal kalimat, sedangkan khabar adalah pelengkap arti mubtada’ yang biasanya terletak setelah mubtada’. Saya akan membahas mubtada’ dan khabar lebih mendetail pada artikel terpisah insyaallah agar artikel ini tidak terlalu panjang. 

Setruktur jumlah ismiyah
Mubtada’ + khabar mubtada’

Contoh:
الْكِتَابُ جَدِيْدٌ
Buku itu baru
Sebagai mubatada’ karena berada di awal kalimat, dan ia memenuhi syarat sebagai mubtada’ الْكِتَابُ
Khabar mubtada’, melengkapi arti mubtada’ جَدِيْدٌ

Catatan: seandainya seseorang berkata “buku” kemudian diam, tentu orang yang mendengarkannya bingung dan bertanya-tanya. Oleh sebab itu ia butuh pelengkap, “buku itu baru” “buku itu bagus” dst. Pelengkapnya itulah disebut khabar mubtada’.

Syarat-syarat mubtada’:
a) Dia harus isim ma’rifat, kalau belum tau apa itu isim makrifat, baca artikel saya tentang isim makrifat. Pada contoh di atas, ia termasuk isim makrifat karena ber-alif lam. Namun adakalanya mubtada’ dari jenis isim nakirah. Tetapi bagi pemula cukup tau dulu kalau mubtada’ itu harus makrifat.
b) Apabila mubtada’ dari jenis makrifat, dan khabarnya bukan shibhul jumlah, maka mubtada’ wajib terletak di depan. Namun apabila mubtada’ dari jenis nakirah, atau khabarnya berupa shibhul jumlah, maka ia boleh berada dibelakang.

Syarat-syarat khabar mubtada’:
a) Khabar mubtada’ mengikuti mubtada’ pada jenis dan jumlahnya. Apabila mubtada’ mudzakkar, maka khabarnya wajib mudzakkar. Apabila mubtada’ muannats, maka khabarnya wajib mu’annats. Begitu juga apabila mubtada’ mufrod, maka khabarnya wajib mufrod, apabila mubtada’ mutsanna, maka khabarnya wajib mutsanna, dst. Syarat diatas berlaku apabila khabar mubtada’ merupakan khabar mufrod, namun apabila khabarnya khabar jumlah, maka syarat di atas tidak berlaku.

2. Jumlah fi’liyah, adalah jumlah (kalimat) yang di awali kalimah (kata) fi’il (kata kerja). Struktur jumlah fi’liyah terdiri dari fi’il (kata kerja), fa’il (subjek/pelaku), dan maf’ul bih (obyek).  Sebelum kamu melanjutkan membaca artikel ini, baca dulu artikel saya tentang fi’il lazim dan fi’il muta’addi, karena ia berhubungan dengan artikel ini.
a) Fi’il lazim
Kalimat yang tersusun dari fi’il lazim mempunyai struktur kalimat yang lebih pendek dari kalimat yang tersusun dari fi’il muta’addi. Karena fi’il lazim tidak membutuhkan maf’ul bih.

Struktur jumlah fi’liyah yang tersusun dari fi’il lazim
Fi’il + fail




Contoh:
نَامَ مُحَمَّدٌ
Muhammad telah tidur
Fi’il (fi’il madhi) نَامَ
Fail مُحَمَّدٌ

b) Fi’il muta’addi
Kalimat yang tersusun dari fi’il muta’addi setrukturnya adalah:

Struktur jumlah fi’liyah yang tersusun dari fi’il muta’addi
Fi’il + fail + maf’ul bih

Contoh:
دَرَسَ الطَّالِبُ اللُّغَةَ الْعَرَبِيَّةَ
Siswa telah belajar bahasa arab
Fi’il (fi’il madhi) دَرَسَ
Fail الطَّالِبُ
Maf’ul bih اللُّغَةَ الْعَرَبِيَّةَ

Itulah setruktur kalimat bahasa arab, baik jumlah ismiyah maupun jumlah fi’liyah. Dengan mengetahui setruktur kalimat bahasa arab, kalian bisa membuat kalimat dalam bahasa arab dengan mudah. kalian bisa mempraktekkan rumus cara membuat kalimat dalam bahasa arab di atas dengan bantuan kosakata yang kalian ketahui. karena jika kosakata bahasa arab yang kalian ketahui sedikit, maka kalian akan kesulitan dalam menyusun kalimat. Semoga artikel ini bisa membantu kalian yang sedang belajar bahasa arab. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

cara membuat kalimat dalam bahasa arab