Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Fi’il lazim dan fi’il muta’addi

fi'il lazim dan fi'il muta'addi


Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Hai sahabat arobiyah institute, pernahkah kalian bertanya-tanya kenapa ada sebuah kalimat dalam bahasa arab yang tidak mengandung obyek, dan ada kalimat yang mengandung obyeknya? Memang kalau kita menelaah sebuah kalimat bahasa arab, kita akan menemukan hal itu. Kadang ada kalimat yang menggunakan obyek, dan kadang ada yang tidak menggunakan obyek. Lalu apakah kalimat yang tidak mengandung obyek termasuk kalimat yang sempurna? Mari kita bahas permasalahan ini.
fi’il mempunyai banyak macam jika ditinjau dari beberapa aspek. Misalnya jika ia ditinjau dari segi waktu terjadinya pekerjaan, ia terbagi menjadi madhi, mudhari’, dan amr. Apabila ia ditinjau dari segi penerimaannya terhadap obyek, ia terbagi menjadi 2, Yaitu fi’il lazim dan fi’il muta’addi.

1. Fi’il lazim 

Fi’il lazim adalah kata kerja yang tidak membutuhkan obyek. Jadi susunan kalimat dari jenis ini hanya fi’il lazim dan fa’il saja. Kalimat ini telah menjadi kalimat yang sempurna, karena ia sudah bisa dipahami.

Susunan jumlah fi’liyah dari fi’il lazim
Fi’il lazim + fa’il

Contoh kalimat yang tersusun dari fi’il lazim:


Faris telah datang جَاءَ فَارِسٌ
Azam telah keluar dari kelas خَرَجَ عَزَّامٌ مِنَ الْفَصْلِ
Fatimah telah pergi ke pasar ذَهَبَتْ فَاطِمَةُ إِلَى السُّوْقِ
Sulaiman sedang tidur di atas ranjang يَنَامُ سُلَيْمَانُ عَلَى السَّرِيْرِ
Burhan telah berdiri di depan rumah قَامَ بُرْهَانُ أَمَامَ الْبَيْتِ

2. Fi’il muta’addi

Fi’il muta’addi adalah kata kerja yang membutuhkan obyek. Apabila ada kalimat yang tersusun dari fi’il muta’addi namun tidak ada obyeknya, maka kalimat tersebut bukan merupakan kalimat yang sempurna. Karena ia belum bisa dipahami, dan masih membuat orang bertanya-tanya. Misalkan saya berkata “affan telah memukul”, pasti orang yang mendengar masih bertanya-tanya, siapa yang dipukul?. Itulah kenapa ia termasuk kalimat yang tidak sempurna, dan yang benar adalah “affan telah memukul pencuri”. Jumlah fi’liyah yang tersusun dari fi’il muta’addi, terdiri dari fi’il muta’addi, fa’il, dan maf’ul bih(obyek).

Susunan jumlah fi’liyah dari fi’il muta’addi
Fi’il muta’addi + fa’il + maf’ul bih(obyek)

Contoh kalimat yang tersusun dari fi’il muta’addi:


Muhammad telah makan nasi أَكَلَ مُحَمَّدٌ الرُّزَّ
Najib sedang membaca majalah يَقْرَأُ نَجِيْبٌ الْمَجَلَّةَ
Koki sedang memasak makanan يَطْبَخُ الطَّبَّاخُ الطَّعَامَ
Polisi telah menangkap pencuri قَبَضَ الشُّرْطِيُّ السَّارِقَ
Muslim telah menyembelih kambing ذَبَحَ الْمُسْلِمُ الْغَنَمَ

Begitulah pemaparan singkat kenapa dalam kalimat bahasa arab kadang-kadang mengandung obyek dan kadang-kadang tidak. Hapalkan istilah-istilah diatas, apa itu fi’il lazim, apa itu fi’il muta’addi. Biar kalau dilain waktu menemukan permasalahan yang sama, kalian tidak bingung. Semoga artikel ini bermanfaat, wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Posting Komentar untuk "Fi’il lazim dan fi’il muta’addi"